Di kawasan **Taman Mini Indonesia Indah**, Museum Penerangan menyimpan perjalanan panjang bagaimana informasi disampaikan kepada masyarakat Indonesia—dari kentongan dan surat kabar, hingga radio, televisi, film, dan berbagai teknologi komunikasi modern. Museum ini lahir dari gagasan **Ibu Tien Soeharto** dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada **20 April 1993**, sebagai ruang untuk mendokumentasikan perkembangan dunia penerangan dan komunikasi di Indonesia.
Bahkan sebelum memasuki ruang pamer, arsitektur bangunannya telah membawa pesan tersendiri. Museum ini dirancang menyerupai **bintang bersudut lima**, melambangkan Pancasila sekaligus lima unsur penerangan: penerangan umum, pers, radio, televisi, dan film. Di bagian depan berdiri tugu **“Api nan Tak Kunjung Padam”**, dikelilingi patung para juru penerang dan air mancur. Sementara bagian puncak bangunan yang berbentuk silinder terinspirasi dari **kentongan**, salah satu alat komunikasi tradisional masyarakat Indonesia.
Memasuki ruang pamer seperti menelusuri perubahan cara manusia berkomunikasi dari satu masa ke masa berikutnya. Lebih dari seratus perangkat komunikasi pernah digunakan untuk menyampaikan berita dan informasi kepada masyarakat ditampilkan di dalamnya—mulai dari kentongan, mesin cetak, surat kabar, radio, televisi, kamera, hingga perangkat penyiaran. Tiga lantai bangunannya pun dirancang untuk menggambarkan perjalanan **masa lalu, masa kini, dan masa depan** dunia informasi.
Beberapa koleksi membawa pengunjung kembali ke masa ketika radio dan televisi menjadi jendela utama masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi di luar lingkungan mereka. Di luar gedung terdapat kendaraan siaran bersejarah milik **RRI dan TVRI**, sementara di dalam museum tersimpan kamera televisi generasi awal, perangkat penyiaran, mesin cetak, serta berbagai dokumentasi perkembangan pers dan media di Indonesia.
Museum Penerangan pada akhirnya bukan hanya bercerita tentang perkembangan alat komunikasi. Ia juga merekam perubahan cara sebuah bangsa berbicara, menyebarkan berita, merekam peristiwa, dan menyampaikan cerita kepada generasi berikutnya. Dari bunyi sederhana sebuah kentongan hingga gambar yang disiarkan melalui layar televisi, setiap koleksi menunjukkan bagaimana teknologi terus mengubah cara masyarakat Indonesia **mendengar, melihat, dan memahami dunia di sekelilingnya**.